Show simple item record

dc.creatorBudiarto, Wasis
dc.creatorSudahar, Indriana
dc.creatorRistrini,
dc.creatorSetyobudi, Titien
dc.date1992
dc.date.accessioned2018-06-28T12:49:00Z
dc.date.available2018-06-28T12:49:00Z
dc.identifierBudiarto, Wasis and Sudahar, Indriana and Ristrini, and Setyobudi, Titien (1992) PENELITIAN FUNGSI PUSKESMAS SEBAGAI PUSAT PENGAWASAN DISTRIBUSI OBAT-OBATAN DALAM ERA TINGGAL LANDAS. Project Report. Puslitbang Pelayanan Kesehatan Surabaya.
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/123456789/21003
dc.descriptionPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari fungsi puskesmas sebagai pusat pengawasan distribusi obat di masyarakat, yang meliputi penggunaan obat oleh masyarakat, kemampuan puskesmas dalam pengawasan distribusi obat, pengelolaan obat di unit pelayanan obat, rumusan pedoman pengawasan obat oleh puskesmas serta pembinaan puskesmas kepada pos obat desa (POD). Penelitian ini dilakukan di tiga propinsi, dan dari masing-masing propinsi dipilih satu kabupaten, yaitu Kab. Lombok Barat (NTB), Soppeng (Sulawesi Selatan) dan Lamongan (Jatim). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, work diary dan diskusi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata sakit dalam keluarga adalah 2 kali/6 bulan, dimana frekuensi pengobatan di RS, puskesmas, dokter praktek dan paramedis praktek berturut-turut 2,18 kali, 3,93 kali, 2,87 kali dan 2,38 kali. Pengobatan sendiri dilakukan rata- rata 2,09 kali per 6 bulan dengan gangguan nafas, sakit kepala dan demam/panas. Obat yang paling sering digunakan adalah paracetamol, obat tradisionil dan metampiron dalam bentuk patent, disamping antibiotika, sulfa dan kortikosteroid. Faktor yang mempengaruhi pengobatan sendiri adalah kasus kehamilan dalam keluarga (r = -0,0078) dan jumlah kali sakit (r = - 0,0798). Konsumsi obat dimasyarakat sebesar 4,555 dari total pengeluarannya. Kemampuan personil puskesmas dalam pengawasan obat relatif kurang, walaupun masih ada waktu luang yang dapat digunakan oleh pengelola obat. Frekuensi pembinaan kepada unit pelayanan obat sebanyak 3,30 kali per tahun, dan paling banyak dilakukan oleh Dinkes dan Kandepkes terhadap Puskesmas. Pembinaan bagi POD telah banyak dilakukan oleh puskesmas (4% setahun). Fungsi pengawasan distribusi obat yang dapat dilaksanakan oleh puskesrnas adalah penyuluhan,pelaporan, pembinaan dan pertimbangan ijin pedagang eceran obat (rekomendasi).
dc.publisherPuslitbang Pelayanan Kesehatan Surabaya
dc.relationhttp://repository.litbang.kemkes.go.id/2521/
dc.subjectQV 1-57 Reference Works. General Works
dc.titlePENELITIAN FUNGSI PUSKESMAS SEBAGAI PUSAT PENGAWASAN DISTRIBUSI OBAT-OBATAN DALAM ERA TINGGAL LANDAS
dc.typeMonograph
dc.typeNonPeerReviewed


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record