Show simple item record

dc.creatorSuryati, Tati
dc.date2006
dc.date.accessioned2018-06-28T12:49:40Z
dc.date.available2018-06-28T12:49:40Z
dc.identifierSuryati, Tati (2006) ASESMEN DETERMINAN UTILISASI, AKSES DAN KEPUASAN KONSUMER PELAYANAN KESEHATAN, KHUSUSNYA PADA MASYARAKAT MISKIN DI DAERAH SULIT, TERPENCIL DAN DAERHA MISKIN PERKOTAAN (DALAM PROGRAM JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT MISKIN). Project Report. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/123456789/21200
dc.descriptionTujuan utama pembangunan kesehatan adalah menyediakan pelayanan kesehatan bermutu bagi seluruh penduduk (jangkauan universal).Adanya masa transisi,maka pelaksanaan program Jaminan kesehatan Masyarakat Miskin pada tahun 2005 ini masih belum sepenuhnya mengikuti prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud dalam UU no.40 tahun 2004. Studi ini akan melihat sejauh mana pelaksanaan sistem ini telah berjalan di masyarakat dan faktor -faktor yang berhubungan dengan utilisasi pelayanan kesehatan khususnya pada masyarakat miskin di daerah terpencil dan sulit, serta di daerah kumuh pekotaan. Jenis sudi adalah kross seksional, disain penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan pengambilan data dari sisi masyarakat dan pemilik kartu berobat gratis, tokoh masyarakat informal, kader posyandu dan di triangulasi kepada Camat/lurah serta petugas kesehatan. Hasil penelitian ini adalah: 1. Distribusi kartu askeskin baru ada di Kab.Ende dan Kab.Karangasem (sampai Desember 2005). Di Ende belum semua difoto, kartu yang tidak ada foto tidak bisa digunakan untuk berobat. Sebagian besar distribusi kartu tepat sasaran. 2. Masalah kepesertaan yang banyak dikeluhkan jumlah kartu kurang, stakeholder banyak tidak diikut sertakan .Pemahaman indikator kemiskinan masih belum sama dan banyak yang tak sesuai untuk menggambarkan tingkat kemiskinan yang sebenarnya. 3. Proses administrasi pemilik kartu di rumah sakit tidak mudah. 4. Perlu ditinjau kembali masalah kapitasi di puskesmas agar tidak ada penolakan masykin yang berobat di daerah perifer. 5. Mekanisme safeguarding belum berjalan, pengaduan masykin dilakukan secara informal. SosiaIisasi sangat kurang baik bagi masykin ,petugas kesehatan dan stakeholder. 6. Sebanyak 84.20% pemillik kartu menyatakan kartu bermanfaat. Pemanfaatan kartu askeskin di Kab-Karangasem baru 5,4% dan di Kab.Ende 8.6% ( periode November 2005), utilisasi tertinggi di puskesmas selanjutnya rumah sakit. 7. Sebanyak 14.9% tidak menggunakan kartu dengan alasan kendala transpotasi. Untuk kasus rujukan penggunaan ambulan/pusling hanya 11.4 % dan separuhnya harus membayar, hanya 7.7% pemilik kartu dapat penggantian transport kasus rujukan. 8. Sebanyak 22% pemegang kartu berobat dengan membayar, pengalaman di rumah sakit banyak yang harus iur biaya : karcis, periksa dokter, periksa perawat, biaya ke klinik gigi, biaya ke klinik KB dan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi). 9. Di rumah sakit 65% pemilik kartu hams membeli obat (sebagian atau seluruhnya) ,di Polindes 55%, di Puskesmas dan Pustu sebanyak 25%. 10. Kegiatan revitalisasi Posyandu umumnya ada, namun transparansi alokasi dana kegiatan masih belum jelas, pengaturan besar biaya transport dan incentive kader tidak sama satu dengan yang lain dan tidak semua kader mendapatkan imbalan tersebut. 11. Jumlah penerima BtT lebih sedikit dari penerima kasrtu Askeskin, penyaluran dananya masih belum sempurna.
dc.publisherBadan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
dc.relationhttp://repository.litbang.kemkes.go.id/2726/
dc.subjectW 84-85.5 Health Services. Patients and Patient Advocacy
dc.titleASESMEN DETERMINAN UTILISASI, AKSES DAN KEPUASAN KONSUMER PELAYANAN KESEHATAN, KHUSUSNYA PADA MASYARAKAT MISKIN DI DAERAH SULIT, TERPENCIL DAN DAERHA MISKIN PERKOTAAN (DALAM PROGRAM JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT MISKIN)
dc.typeMonograph
dc.typeNonPeerReviewed


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record