Show simple item record

dc.contributoren-US
dc.creatorYahya, Yahya; Badan Litbangkes Kemenkes RI
dc.creatorSalim, Milana; Badan Litbangkes Kemenkes RI
dc.creatorArisanti, Maya; Badan Litbangkes Kemenkes RI
dc.date2015-01-11
dc.date.accessioned2019-11-06T10:11:28Z
dc.date.available2019-11-06T10:11:28Z
dc.identifierhttp://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/aspirator/article/view/3623
dc.identifier10.22435/aspirator.v6i2.3623.35-42
dc.identifier.urihttp://r2kn.litbang.kemkes.go.id:8080/xmlui/handle/123456789/32234
dc.descriptionAbstract. Pemayungdistricts, Batanghari regency of Jambi province classified as filariasis endemic areas in Jambi province since the Mf rate reached 1.5% in 2011. A study was conducted to identify Brugia malayi on experimentally infected Ar. subalbatus and Cx. quinquefasciatus. An experimental study was performed with completely randomized design and six repetitions. Standard of treatment in this study was time (hours) that selected for mosquitoes to bite the patients with filariasis (experimental infection). Selected time is at 9.00 a.m, 5.00 p.m, 9.00 p.m, and at 1.00 a.m. The results showed that filarial L3 larvae did not found on Ar. subalbatus and Cx. quinquefasciatus mosquitoes during surgery at day 11th to 13th after infection. Density of microfilariae in the blood of humans as a source of infection was 17 microfilariae per 20 micro liter blood. Otherwise, after detection by PCR, our study found positive B.malayi on Cx. quinquefasciatus thorax and proboscis. It indicates that Cx. quinquefasciatusas potential vector of B.malayi filariasis compared to Ar. subalbatus. Keywords: PCR, filariasis, Armigeres subalbatus, Culex quinquefasciatus, Brugia malayi   Abstrak. Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi merupakan wilayah endemis filariasis di Provinsi Jambi Karena angka Mf rate mencapai 1,5% pada tahun 2011. Penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerentanan nyamuk Ar. subalbatus dan Cx. quinquefasciatus terhadap infeksi B. malayi subperiodik nokturna yang dilakukan pada tahun 2013, sehingga dapat dianalisis potensi nyamuk tersebut sebagai vektor filariasis di lokasi penelitian. Desain penelitian adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap dan enam kali pengulangan. Variabel perlakuan dalam penelitian ini adalah waktu (jam) yang dipilih untuk menggigitkan nyamuk pada penderita filariasis (infeksi percobaan). Waktu yang dipilih adalah pukul 09.00 WIB, pukul 17.00 WIB, pukul 21.00 WIB dan pukul 01.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ditemukan larva L3 filaria yang ada pada Ar. subalbatus dan Cx.quinquefasciatus pada saat pembedahan nyamuk di hari ke-11, ke-12 dan ke-13 setelah infeksi. Kepadatan mikrofilaria pada darah manusia sebagai sumber infeksi adalah 17 mikrofilaria per 20 µl darah. Hasil uji PCR, terdeteksi B. malayi pada bagian toraks dan probosis pada nyamuk Cx. quinquefasciatus. Nyamuk Cx. quinquefasciatus lebih berpotensi untuk menjadi vektor filariasis dari B. malayi dibandingkan Ar. subalbatus. Kata Kunci: PCR, filariasis, Armigeres subalbatus, Culex quinquefasciatus, Brugia malayien-US
dc.formatapplication/pdf
dc.languageen
dc.publisherMinistry of Health Republic of Indonesia, NIHRDen-US
dc.sourceAspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor; Vol 6, No 2 (2014); 35-42id-ID
dc.sourceASPIRATOR - Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor (Journal of Vector-borne Diseases Studies); Vol 6, No 2 (2014); 35-42en-US
dc.titleDeteksi Brugia malayi pada Armigeres subalbatus dan Culex quinquefasciatusyang diinfeksikan darah penderita filariasis dengan metode PCRen-US
dc.typeen-US


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record