Show simple item record

dc.contributorBADAN LITBANGKES KEMENKESid-ID
dc.creatorRichards, Allen L.
dc.creatorRahardjo, Eko
dc.creatorSoeatmadji, Djoko W.
dc.date2012-09-06
dc.date.accessioned2019-12-16T09:25:26Z
dc.date.available2019-12-16T09:25:26Z
dc.identifierhttp://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article/view/236
dc.identifier10.22435/bpk.v23i3 Sept.236.
dc.identifier.urihttp://r2kn.litbang.kemkes.go.id:8080/handle/123456789/80148
dc.descriptionPenyakit Rickettsia bersifat endemik hampir di seluruh bagian dunia, dan begitu juga di Indonesia. Termasuk dalam penyakit-penyakit rickettsia adalah tifus epidemik, tifus murine, "scrub typhus," dan "spotted fever." Tifus epidemik, yang ditularkan kepada manusia melalui tuma pada tubuh manusia, dan dapat menyebabkan sakit berat dan kematian.   Tifus murine (tifus endemik), bersumber pada pinjal hewan, merupakan penyakit yang mirip tifus epidemik, tetapi dengan gejala-gejala yang lebih ringan dan jarang menyebabkan kematian. "Scrub typhus", merupakan penyakit yang dapat ringan sampai berat dan dapat membahayakan hidup, ditularkan kepada manusia melalui gigitan tungau yang belum dewasa yang dikenal sebagai "chigger". "Spotted fever: (demam yang disertai dengan bintik-bentik pada kulit), disebabkan karena terinfeksi oleh salah satu dari berbagai spesies rickettsia dari kelompok "spotted fever", dan ditularkan kepada manusia oleh pejamu (hospes) vertebrata melalui gigitan caplak (tick) yang terinfeksi. Penyakit yang disebabkan oleh organisma yang menyerupai rickettsia (rickettsia-like organism) adalah: "Q fever", yaitu penyakit yang akut atau kronis yang diduga ditularkan secara alamiah akibat terhirup oleh partikel udara yang terinfeksi Coxiella burnetti sejenis bakteri yang sangat resisten terhadap upaya menonaktifkannya secara kimiawi dan fisik. Bartonellosis atau penyakit Carrion, ditemukan pada daerah dengan ketinggian sedang di Andes, Amerika Selatan. Penyakit ini ditularkan oleh lalat pasir (sand flies). "Trench fever", mirip dengan tifus epidemik, ditularkan kepada manusia oleh tuma; penyakit ini sembuh sendiri. Penyakit garutan kucing (Cat-scratch disease), disebabkan oleh infeksi Bartonella henselae di tempat gigitan atau garutan kucing rumah yang merupakan hospes. Demam sennetsu, merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dan hanya ditemukan di Jepang dan Malaysia. Pengobatan dengan tetrasiklin atau kloramfenikol untuk penyakit Rickettsia dan penyakit yang menyerupai Rickettsia, serta monositik dan granulositik ehrlichiosis pada manusia, menunjukkan hasil yang baik. Ehrlichiosis pada manusia merupakan penyakit baru yang tidak diketahui penyebarannya di seluruh dunia, sangat mungkin ditularkan oleh "tick". Walaupun umumnya dapat sembuh sendiri, angka kematian ehrlichiosis dilaporkan mencapai 2-10%. Sebagian besar penyakit rickettsia dan penyakit yang menyerupai rickettsia tersebut di atas belum dikaji secara intensif di Asia Tenggara. Walaupun masih terbatas, di Indonesia sudah dilakukan penelitian-penelitian tentang "scrub typhus" dan "murine typhus." Sedangkan penyakit-penyakit yang ada hubungan dengan kutu penyebar Rickettsia seperti "tick typhus" atau "spottedfever", "trench fever", bartonellosis, "Q fever", dan ehrlichiosis masih terabaikan di Indonesia. Tinjauan ini bertujuan untuk memperkenalkan hasil-hasil penelitian tentang penyakit-penyakit rickettsia di Indonesia, dan memperlihatkan berberapa penyakit yang penyebarannya sekarang telah diketahui disebabkan oleh arthropoda.id-ID
dc.formatapplication/pdf
dc.languageid
dc.publisherBadan Penelitian dan Pengembangan Kesehatanen-US
dc.rightsThe Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to Buletin Penelitian Kesehatan (Bulletin of Health Research) and Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (National Institute of Health Research and Development) as publisher of the journal.Copyright encompasses exclusive rights to reproduce and deliver the article in all form and media, including reprints, photographs, microfilms and any other similar reproductions, as well as translations. The reproduction of any part of this journal, its storage in databases and its transmission by any form or media, such as electronic, electrostatic and mechanical copies, photocopies, recordings, magnetic media, etc. , will be allowed only with a written permission from Buletin Penelitian Kesehatan (Bulletin of Health Research) and Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (National Institute of Health Research and Development).Buletin Penelitian Kesehatan (Bulletin of Health Research) and Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (National Institute of Health Research and Development), the Editors and the Advisory International Editorial Board make every effort to ensure that no wrong or misleading data, opinions or statements be published in the journal.
dc.sourceBuletin Penelitian Kesehatan; Vol 23, No 3 Sept (1995)en-US
dc.subjectHealth; Kesehatanid-ID
dc.subjectRickettsial Diseasesid-ID
dc.subjectid-ID
dc.titleRICKETTSIAL DISEASES: RISK FOR INDONESIAid-ID
dc.typeid-ID
dc.typeen-US


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record