Show simple item record

dc.contributoren-US
dc.creatorIrawan, Anggi Septia; Institute of Vector and Reservoir Control Research and Development
dc.creatorBoesri, Hasan; Institute of Vector and Reservoir Control Research and Development
dc.creatorNugroho, Sidiq Setyo; Institute of Vector and Reservoir Control Research and Development
dc.date2018-12-31
dc.date.accessioned2019-12-17T10:45:28Z
dc.date.available2019-12-17T10:45:28Z
dc.identifierhttp://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/vk/article/view/8812
dc.identifier10.22435/vk.v10i2.8812.97-104
dc.identifier.urihttp://r2kn.litbang.kemkes.go.id:8080/handle/123456789/83697
dc.descriptionProgram eliminasi filariasis limfatik sedang berlangsung di semua provinsi di Indonesia. Jawa Tengah termasuk dalam sepuluh besar kasus kronis Lymphatic Filariasis (LF) dari 33 provinsi di Indonesia. Dimulai pada tahun 2015, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan program eliminasi filariasis dengan menerapkan Mass Drug Administration (MDA) atau Pembagian Obat Pencegahan Massal “POPM”. Minimal cakupan pembagian adalah 65% dari populasi di kabupaten/kota dengan mendistribusikan diethylcarbamazine citrate (DEC) dan dikombinasikan dengan albendazole. Dengan adanya program ini, diharapkan filariasis dapat tereliminasi dan infeksi cacing dapat dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala dan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan eliminasi filariasis, pengendalian infeksi kecacingan, dan pengendalian vektor. Metode yang diterapkan adalah peninjauan artikel ilmiah, inventarisasi kebijakan, diskusi dengan para ahli dan praktisi, serta konfirmasi data di lapangan. Hasil penelitian ini menggambarkan cakupan POPM di Kabupaten Pekalongan di atas cakupan minimal 65% dan prosentase terjadi reaksi lanjutan (efek samping) setelah mengkonsumsi obat kurang dari 1% dari seluruh target sasaran. Berdasarkan studi yang dilakukan, pelaksanaan POPM tidak sebatas hanya distribusi obat, namun yang lebih penting adalah implementasi POPM dalam pengawasan konsumsi obat. Di Pekalongan vektor potensial adalah Cx. quinquefasciatus dengan lokasi perkembangbiakan di parit, saluran irigasi, sawah. Pekalongan menerapkan program pengendalian vektor terintegrasi dengan malaria dan demam berdarah. Berdasarkan situasi lapangan, implementasi pengendalian terpadu tidak hanya bagaimana pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue dapat memfasilitasi eliminasi filariasis, karena manajemen vektor terpadu tidak efektif jika kasus malaria dan demam berdarah dengan filaria limfatik tidak di lokasi yang sama. Pasca POPM hasil kajian ini merekomendasikan untuk menggunakan xenomonitoring melalui pemeriksaan molekuler sebagai asesmen kapasitas nyamuk sebagai vektor Filariasis Lymphatic.en-US
dc.formatapplication/pdf
dc.formatapplication/pdf
dc.languageen
dc.publisherBalai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatigaen-US
dc.relationhttp://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/vk/article/downloadSuppFile/8812/804580458558
dc.rightsThe Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to VEKTORA and Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (Institute of Vector and Reservoir Control Research and Development) as publisher of the journal. Copyright encompasses exclusive rights to reproduce and deliver the article in all form and media, including reprints, photographs, microfilms and any other similar reproductions, as well as translations. The reproduction of any part of this journal, its storage in databases and its transmission by any form or media, such as electronic, electrostatic and mechanical copies, photocopies, recordings, magnetic media, etc. , will be allowed only with a written permission from VEKTORA (Journal of Vector Borne and Reservoir Diseases) and Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (Institute of Vector and Reservoir Control Research and Development). VEKTORA (Journal of Vector Borne and Reservoir Diseases) and Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (Institute of Vector and Reservoir Control Research and Development), the Editors and the Advisory International Editorial Board make every effort to ensure that no wrong or misleading data, opinions or statements be published in the journal.
dc.sourceVektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit; Vol 10, No 2 (2018); 97-104en-US
dc.sourceVektora; Vol 10, No 2 (2018); 97-104id-ID
dc.subjecten-US
dc.titlePROGRAM NASIONAL UNTUK ELIMINASI FILARIASIS LIMFATIK: STUDI KASUS DI KABUPATEN PEKALONGAN, JAWA TENGAHen-US
dc.typeen-US


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record